Friday, October 29, 2010

PUISI-PUISI JIWA HASIL NUKILAN KU SENDIRI..

JANJI

Detik itu

Kuhayun kakiku Sepantas kudratku

Setiap langkah kugagahi

Bersama segunung tabah

Walau mutiara dibirai mata ini

Gugur bertali arus namun kental jiwaku tak tewas

Detik itu

Ibu menangisi pemergianku

Masih ku ingat

Lambaiannya dihiasi sekuntum senyum

Airmatanya dibungai bahgia

Meski pilu mengikat relung hati

Namun pasrah merungkai rela

Detik itu

Ayah merenung mataku

Ada sinar pengharapan menghiasi bibir matanya

Renungan itu membuat hatiku akur dan faham

Bahawa akulah tiang harapan keluarga

Pergi ku bersama segenggam harapan

Pergiku membawa seribu impian

Impian seorang ayah untuk melihat anaknya berjaya

Harapan si ibu anaknya menjadi anak berguna

Bersama secebis doa dan tiupan semangat ayahanda dan bonda

Sudah cukup untukku jadikan senjata agungku

Masih segar di mindaku

Meski nurani kecil ini

Menangisi perpisahan itu

Namun langkah ku gagahi

Bersama secebis pasrah

Berbicara pada diri

Memujuk jiwa

Agar tabah melakar impian

Aku melafaz satu janji dengan kalam Bismillah

Memohon secalit rezeki-Mu Ya Allah

Segulung ijazah kelas pertama buat mereka

Itu janji ku buat insan yang bernama ibu dan ayah

Amin..






SEMANGAT

Masihkah aku memilikinya

Masihkah ada dia dalam diriku

Selama ini

Dia menemani aku

Meniti setiap

Lembaran dalam wacana hidupku

Setiap kali tirai kejayaan ku berlabuh

Dia setia menghiasinya

Namun sering aku bertanya

Masihkah ada dia disisi ku

Masihkah ada gersik suaranya

Yang sering kali memanah rasa

Masih bertenagakah ia mengiringi aku

Dalam menempuh cermin kehidupan yangbegitu kabur

Atau...

Sudah paraukah suaranya

Sudah lesu dan lunturkah ia

Apa ia sudah terlalu hodoh

Sehingga rasa malu mengigit sudut hatinya

Segan menari angkuh didadanya

Kerana itulah dia semakin hilang dariku

Wahai teman yang bernama semangat

Aku rindu padamu

Temanilah aku sehingga Illahi menyeru nama ku



Wayang Kulit

Bergema alunan irama

Dalang kelir panggung

Bersama hanuman yang dicipta dari belulang

Asalnya kulit lembu yang sudah mati

Dikeringkan dan dikikis menjadi patung

Al-kisah peperangan dasyat Seri Rama

Seringkali berirama setiapkali selepas musim menuai

Wayang kulit tradisi gemilang

Warisan abadi selamanya

Gitar Sebuah Itu

Gitar sebuah itu,

Selalu ada disisiku,

Menghilangkan sendu rindu,

Melampiaskan marah benci,

Mengusai rindu dendam.

Gitar sebuah itu,

Teman hidup abadiku,

Tika bungkam merobek duka,

Iramanya begitu asyik memecah sepi,

Petikkan talinya mengegar rasa,

Hilangkan tangisan yang merajai hati.

Gitar sebuah itu,

Teman hayatku abadi selamanya.



Layunya Sekuntum Mawar Merah

Layumu dimamah cahaya

Cahaya cerlang merobek warnamu

Kau sangka sinaran mentari itu penyubur abadi

Namun tanpa sedar mentari itu pemusnah indahmu

Dulunya kau sesegar embun pagi

Penyeri setiap saat dalam perjalanan hidupku

Kau mekar melakar memori kasih aku dan dia

Namun layumu bersama cinta suciku

Layumu menggugurkan kelopak – kelopak rinduku

Layumu menghapuskan kuntuman senyumku

Layunya sekuntum mawar merah

Bak layunya cinta aku dan dia.


PENITIAN MAKNA

Meniti hari hari indah

Setiap nadi berdenyut penuh hikmah

Teman sejati seribu ramah

Bagaikan aku di rumah

Mulanya hiba merangkul prasangka

Saat langkah kususun tertib ke arah mereka

Lalu tangan kuhulur tanda perkenalan awal nan mesra

Saat berganti detik dan detik berubah masa

Pertalian yang terikat kukuh

Membuahkan seribu kasih

Tiada lagi sunyi

Tawa angkuh mengusir derita

Tiada lagi tangisan pilu

Hanya riang melakar cinta

Hanya kasih mencorak sayang

Hanya pengertian seribu makna

Akan persahabatan yang terjalin

Mengikat sang hati untuk menjadi akur

Dan otak menjadi faham

Akan bahgia yang terlahir

Namun ..........

Warna yang ceria dulunya

Kini hilang tidak berbaki

Kini hanya warna suram

Yang mewarnai

Setiap detik yang berlalu

Setiap corak yang kucuba lukiskan

Dinodai dengan warna suram

Hitam gelap pekat

Dimana putihnya yang suci?

Aku hilang arah dalan perjalanan meniti

Titian sahabat yang pernah kami bina

Dengan seribu ketulusan

Yang terpahat di sanubari

Aku rindu tawa mu

Aku inginkan belaian manjamu

Aku rindu deru asyik suaramu

Aku rindu saat itu

Aku rindu segalanya

Teman mengertilah

Akan hati ku ini

Andai pernah kata mencanang nista

Kemaafan ku pohon tanda perdamaian

Andai tingkah telanjur parah

Keampunan kuhulur

Agar suci membunga kembali

Teman

Andai tali suci yang kita satukan

Terlerai tanpa penghujung

Aku redha

Mungkin itu tanda akhir hubungan kita

Tapi jangan pernah berhenti

Memohon doa kudus

Buat kita

Agar diari hati ini

Senantiasa ingat bahawa kita pernah bersahabat


SATU

Biarlah seiring

Berganding tangan

Menuju satu destinasi

Kita tegar berdiri

Walau nista tecanang bertebaran di udara

Andaikan ia bebayang kalis pandangan

Kita jangan pernah

Tersilap tafsir akan ertinya

Ingatlah apapun nyatanya

Kita tetap satu kerna kau dan aku tiada lagi dua tetapi satu



KELIRU


Aduhai hati!

ku cari bicaramu

Namun ku dengar sayup sayup

Ku cuba peka kan telinga

Namun jeritan mu itu membuat aku keliru

Nama siapa yang kau canangkan itu?

Dia atau dia?

Yang mana satu.............

Oh hatiku!

Bisikanlah cintamu itu untuk siapa?

Aku masih mampu mendengar suaramu

Aku masih bisa mencium keharuman bunga-bunga cinta

Yang kau putikan

Oh hatiku!

Lagu cinta itu milik siapa?

Mengapa nada-nadanya begitu syahdu

Dibungai dengan rintik-rintik bahgia

Aduh!

Keliru aku...

Siapa dia

Insan yang mengigit

Sanubariku.....

Oh hatiku hanya kau yang bisa merungkainya.........................



Wajah tua mama

Wajah itu

Ku lihat buat pertama kalinya

Aku menjengah dunia

Wajah itu

Kulihat acapkali

Mengukir senyum bahgia

Mengalirkan airmata gembira

Dikala setiapkali aku berjaya

Wajah itu senantiasa

Menemani aku

Saat jatuh dan bangunku

Dalam meniti arus kehidupan

Wajah itu selalu memujukku

Saat diri dilanda kesedihan

Hari demi hari

Detik berubah saat

Dan saat membawa masa lalu jauh meninggalkan aku

Wajah itu jua semakin tua dan lesu

Kedut dengan angkuh

Mencorak usia

Namun wajah tua itu masih disitu menemaniku

Meniti usia mudaku

Di jalan kehidupan yang

Dihiasi cahaya seribu liku

Wajah tua mama

Membakar semangat ku

Untuk terus berjaya.



ANDAI


Semalam membuat aku mengerti makna hari ini

Pengalaman hari ini

Mengajar aku menjadi berani

Untuk menghadapi hari esok

Keberanian yang ku miliki hari esok

Adalah petua kejayaan ku di hari muka

Dan kejayaan ku di hari muka

Adalah jaminan cerah buat ku

Menempuh pelayaran hidup

Di layar kenyataan

Yang penuh pancaroba ini

Andai kiranya

Langkah ini tersadung

Andai kiranya jalan ini berliku

Hingga aku harus akur dengan mainannya

Andai kata

Aku rebah dipintu harapan

Dan

Andai saat itu aku

Kaku tak bermaya

Aku redha

Aku pasrah

Kerana

Itu tulisan takdir

Dan seandainya

Coretan hidupku harus begitu

Aku terima hakikatnya

Kerna

Aku berserah pada yang Satu



FATAMORGANA

Bahang auranya masih membakarku

Cahaya cinta yang cerlang

Menghiasi cermin hati ini

Masih terasa tarian riang si jantung

Saat pertemuan ulung

Ketika hati dipanah cinta

Aku cuba mencari penawar yang ampuh

Dibawah rimbunan pepohon silara

Demi

Memujuk sang hati

Agar mengerti aturannya

Dinihari mula gentar melihat gelagat senja

Malam dengan tertib melamar senja

Bungkamnya malam itu

Bukan bermakna sepi

Diamnya malam itu tanda faham dan mengerti

Akan suara di relung hatiku

Yang mencanang namanya

Batinku meronta

Agar harakah percintaan ini aku perjuangkan

Namun,kesedaran memayungi aku

Waras mematahkan lamunanku

Kini aku tahu dan sedar

Cinta itu fatamorgana semata

No comments:

Post a Comment