Friday, October 29, 2010
DIA
BERIKAN AKU YANG PASTI
BUKTIKAN YANG NYATA
JIKA INI CUMA NAFSU
TUNJUKKAN AKU YANG SATU
JIKA INI HANYA SANDARAN
BERIKAN AKU KEBENARAN
DAN JIKA INI SEKADAR GURAUAN
HENTIKAN AKU DARI LAMUNAN
AKU TIDAK MAMPU LAGI TERLUKA
TIDAK DAYA MENAHAN DUKA
TAK KUASA MERASA SIKSA
TAK BISA BERTOPENG SUKA
AKU HANYA INGIN YANG BENAR
AKU HANYA MAHU YANG SAHIH
KERANA BERABAD MENANTI PASTI
RANAP SUDAH SEMANGAT PADU
BERIKANLAH AKU YANG PASTI
SEBELUM JASAD DITELAN BUMI
MAYA

150 JUTA...LAGU YANG SANGAT SENTAP
Lirik 150 Juta – Fynn Jamal
Untuk kali ke seratus lima puluh juta
Mereka tanyakan engkau soalan yang sama
“Eh kenapa kau masih lagi mahukan dia?”
“Apa kau buta apa kau pura-pura suka”
Di seratus lima puluh juta kali itu
Di depan semua engkau tarik tangan aku
Yang sedang buat muka kosong tak ambil tahu
Sambil ketawa engkau bilang satu per satu
“Dia mungkin bengis seperti singa”
“Tapi dia nangis tonton cerita Korea”
“Dia mungkin keras bila bersuara”
“Tapi dia jelas jujur apa adanya”
“Aku lagi kenal dia”
Eh dah lebih seratus lima puluh juta kali
Aku pesan padamu apa yang bakal jadi
Engkau dan aku ada mungkin tidak serasi
Engkau sangat manis aku ini pula dawai besi
Di setiap seratus lima puluh jutanya
Aku pun dalam hati semacam tak percaya
Apa kau lihat pada aku jujurkan saja
Terus kau cubit dagu aku sambil berkata
“Sayang mungkin baran tak kira masa”
“Tapi sayang tahan kalau yang salah saya”
“Sayang mungkin saja keras kepala”
“Tapi sayang manja bila kita berdua”
“Saya kenal sayang saya”
Buat apa di cerita
Bahagia kita rasa
Biar tak dipercaya
Peduli orang kata
Baju ronyok tak apa
Asal pakai selesa
Berkilau tak bermakna
Kalau hati tak ada
Aku lebih bengis dari sang naga
Tapi bisa nangis semata demi cinta
Suaraku keras tak berbahasa
Kerna aku rimas gedik mengada-ngada
Aku mudah baran tidak semena
Mana boleh tahan angin cemburu buta
Dan aku sengaja tunjuk keras kepala
Aku punya manja kau saja boleh rasa
MEREKA SAHABAT SEJATI KU
MEREKA DISEBALIK DIRI ZALIE RASHID

aku akui kau sama seperti aku..semangat kental..namun airmata mu selalu kau sembunyikan..dik abang rindu dengan kamu...Nor Anilasari
manjamu aku akui membuat aku sedar aku adalah abang.....dik abang terlalu rindu ingin mendakapmu dik...Mohd Faradzeen....

PUISI-PUISI JIWA HASIL NUKILAN KU SENDIRI..
JANJI
Detik itu
Kuhayun kakiku Sepantas kudratku
Setiap langkah kugagahi
Bersama segunung tabah
Walau mutiara dibirai mata ini
Gugur bertali arus namun kental jiwaku tak tewas
Detik itu
Ibu menangisi pemergianku
Masih ku ingat
Lambaiannya dihiasi sekuntum senyum
Airmatanya dibungai bahgia
Meski pilu mengikat relung hati
Namun pasrah merungkai rela
Detik itu
Ayah merenung mataku
Ada sinar pengharapan menghiasi bibir matanya
Renungan itu membuat hatiku akur dan faham
Bahawa akulah tiang harapan keluarga
Pergi ku bersama segenggam harapan
Pergiku membawa seribu impian
Impian seorang ayah untuk melihat anaknya berjaya
Harapan si ibu anaknya menjadi anak berguna
Bersama secebis doa dan tiupan semangat ayahanda dan bonda
Sudah cukup untukku jadikan senjata agungku
Masih segar di mindaku
Meski nurani kecil ini
Menangisi perpisahan itu
Namun langkah ku gagahi
Bersama secebis pasrah
Berbicara pada diri
Memujuk jiwa
Agar tabah melakar impian
Aku melafaz satu janji dengan kalam Bismillah
Memohon secalit rezeki-Mu Ya Allah
Segulung ijazah kelas pertama buat mereka
Itu janji ku buat insan yang bernama ibu dan ayah
Amin..
SEMANGAT
Masihkah aku memilikinya
Masihkah ada dia dalam diriku
Selama ini
Dia menemani aku
Meniti setiap
Lembaran dalam wacana hidupku
Setiap kali tirai kejayaan ku berlabuh
Dia setia menghiasinya
Namun sering aku bertanya
Masihkah ada dia disisi ku
Masihkah ada gersik suaranya
Yang sering kali memanah rasa
Masih bertenagakah ia mengiringi aku
Dalam menempuh cermin kehidupan yangbegitu kabur
Atau...
Sudah paraukah suaranya
Sudah lesu dan lunturkah ia
Apa ia sudah terlalu hodoh
Sehingga rasa malu mengigit sudut hatinya
Segan menari angkuh didadanya
Kerana itulah dia semakin hilang dariku
Wahai teman yang bernama semangat
Aku rindu padamu
Temanilah aku sehingga Illahi menyeru nama ku
Bergema alunan irama
Dalang kelir panggung
Bersama hanuman yang dicipta dari belulang
Asalnya kulit lembu yang sudah mati
Dikeringkan dan dikikis menjadi patung
Al-kisah peperangan dasyat Seri Rama
Seringkali berirama setiapkali selepas musim menuai
Wayang kulit tradisi gemilang
Warisan abadi selamanya
Gitar Sebuah Itu
Gitar sebuah itu,
Selalu ada disisiku,
Menghilangkan sendu rindu,
Melampiaskan marah benci,
Mengusai rindu dendam.
Gitar sebuah itu,
Teman hidup abadiku,
Tika bungkam merobek duka,
Iramanya begitu asyik memecah sepi,
Petikkan talinya mengegar rasa,
Hilangkan tangisan yang merajai hati.
Gitar sebuah itu,
Teman hayatku abadi selamanya.
Layunya Sekuntum Mawar Merah
Layumu dimamah cahaya
Cahaya cerlang merobek warnamu
Kau sangka sinaran mentari itu penyubur abadi
Namun tanpa sedar mentari itu pemusnah indahmu
Dulunya kau sesegar embun pagi
Penyeri setiap saat dalam perjalanan hidupku
Kau mekar melakar memori kasih aku dan dia
Namun layumu bersama cinta suciku
Layumu menggugurkan kelopak – kelopak rinduku
Layumu menghapuskan kuntuman senyumku
Layunya sekuntum mawar merah
Bak layunya cinta aku dan dia.
PENITIAN MAKNA
Meniti hari hari indah
Setiap nadi berdenyut penuh hikmah
Teman sejati seribu ramah
Bagaikan aku di rumah
Mulanya hiba merangkul prasangka
Saat langkah kususun tertib ke arah mereka
Lalu tangan kuhulur tanda perkenalan awal nan mesra
Saat berganti detik dan detik berubah masa
Pertalian yang terikat kukuh
Membuahkan seribu kasih
Tiada lagi sunyi
Tawa angkuh mengusir derita
Tiada lagi tangisan pilu
Hanya riang melakar cinta
Hanya kasih mencorak sayang
Hanya pengertian seribu makna
Akan persahabatan yang terjalin
Mengikat sang hati untuk menjadi akur
Dan otak menjadi faham
Akan bahgia yang terlahir
Namun ..........
Warna yang ceria dulunya
Kini hilang tidak berbaki
Kini hanya warna suram
Yang mewarnai
Setiap detik yang berlalu
Setiap corak yang kucuba lukiskan
Dinodai dengan warna suram
Hitam gelap pekat
Dimana putihnya yang suci?
Aku hilang arah dalan perjalanan meniti
Titian sahabat yang pernah kami bina
Dengan seribu ketulusan
Yang terpahat di sanubari
Aku rindu tawa mu
Aku inginkan belaian manjamu
Aku rindu deru asyik suaramu
Aku rindu saat itu
Aku rindu segalanya
Teman mengertilah
Akan hati ku ini
Andai pernah kata mencanang nista
Kemaafan ku pohon tanda perdamaian
Andai tingkah telanjur parah
Keampunan kuhulur
Agar suci membunga kembali
Teman
Andai tali suci yang kita satukan
Terlerai tanpa penghujung
Aku redha
Mungkin itu tanda akhir hubungan kita
Tapi jangan pernah berhenti
Memohon doa kudus
Buat kita
Agar diari hati ini
Senantiasa ingat bahawa kita pernah bersahabat
SATU
Biarlah seiring
Berganding tangan
Menuju satu destinasi
Kita tegar berdiri
Walau nista tecanang bertebaran di udara
Andaikan ia bebayang kalis pandangan
Kita jangan pernah
Tersilap tafsir akan ertinya
Ingatlah apapun nyatanya
Kita tetap satu kerna kau dan aku tiada lagi dua tetapi satu
KELIRU
Aduhai hati!
ku cari bicaramu
Namun ku dengar sayup sayup
Ku cuba peka kan telinga
Namun jeritan mu itu membuat aku keliru
Nama siapa yang kau canangkan itu?
Dia atau dia?
Yang mana satu.............
Oh hatiku!
Bisikanlah cintamu itu untuk siapa?
Aku masih mampu mendengar suaramu
Aku masih bisa mencium keharuman bunga-bunga cinta
Yang kau putikan
Oh hatiku!
Lagu cinta itu milik siapa?
Mengapa nada-nadanya begitu syahdu
Dibungai dengan rintik-rintik bahgia
Aduh!
Keliru aku...
Siapa dia
Insan yang mengigit
Sanubariku.....
Oh hatiku hanya kau yang bisa merungkainya.........................
Wajah tua mama
Wajah itu
Ku lihat buat pertama kalinya
Aku menjengah dunia
Wajah itu
Kulihat acapkali
Mengukir senyum bahgia
Mengalirkan airmata gembira
Dikala setiapkali aku berjaya
Wajah itu senantiasa
Menemani aku
Saat jatuh dan bangunku
Dalam meniti arus kehidupan
Wajah itu selalu memujukku
Saat diri dilanda kesedihan
Hari demi hari
Detik berubah saat
Dan saat membawa masa lalu jauh meninggalkan aku
Wajah itu jua semakin tua dan lesu
Kedut dengan angkuh
Mencorak usia
Namun wajah tua itu masih disitu menemaniku
Meniti usia mudaku
Di jalan kehidupan yang
Dihiasi cahaya seribu liku
Wajah tua mama
Membakar semangat ku
ANDAI
Semalam membuat aku mengerti makna hari ini
Pengalaman hari ini
Mengajar aku menjadi berani
Untuk menghadapi hari esok
Keberanian yang ku miliki hari esok
Adalah petua kejayaan ku di hari muka
Dan kejayaan ku di hari muka
Adalah jaminan cerah buat ku
Menempuh pelayaran hidup
Di layar kenyataan
Yang penuh pancaroba ini
Andai kiranya
Langkah ini tersadung
Andai kiranya jalan ini berliku
Hingga aku harus akur dengan mainannya
Andai kata
Aku rebah dipintu harapan
Dan
Andai saat itu aku
Kaku tak bermaya
Aku redha
Aku pasrah
Kerana
Itu tulisan takdir
Dan seandainya
Coretan hidupku harus begitu
Aku terima hakikatnya
Kerna
Aku berserah pada yang Satu
Bahang auranya masih membakarku
Cahaya cinta yang cerlang
Menghiasi cermin hati ini
Masih terasa tarian riang si jantung
Saat pertemuan ulung
Ketika hati dipanah cinta
Aku cuba mencari penawar yang ampuh
Dibawah rimbunan pepohon silara
Demi
Memujuk sang hati
Agar mengerti aturannya
Dinihari mula gentar melihat gelagat senja
Malam dengan tertib melamar senja
Bungkamnya malam itu
Bukan bermakna sepi
Diamnya malam itu tanda faham dan mengerti
Akan suara di relung hatiku
Yang mencanang namanya
Batinku meronta
Agar harakah percintaan ini aku perjuangkan
Namun,kesedaran memayungi aku
Waras mematahkan lamunanku
Kini aku tahu dan sedar
Cinta itu fatamorgana semata

HARGA SEBUAH KEMAAFAN
Aku mengerling kearah jam tangan SBAO milikku yang berwarna putih, jarum jam menunjukkan tepat 6.00 petang. Aku masih menanti kelibat Danish teman baikku. Kami berdua berjanji, hendak berjumpa di Bukit Ekspo jam 6.30 petang ini. Benarlah kata pujangga penantian itu satu penyiksaan. Aku memilih untuk duduk ditepi tasik buatan itu kerana, aku merasa suasana disitu lebih tenangdamai. Angin petang yang bertiup sepoi – sepoi bahasa benar – benar memberi ketenangan jiwa, nurani kecilku sempat memuji alam ciptaan Allah, begitu agungnya ciptaan Allah, tiada ciptaan yang lebih sempurna melainkan ciptaan-Nya yang penuh dengan kesempurnaan. Namun keindahan dan ketenangan alam yang bungkam bisu itu, benar – benar menyingkap helaian demi helaian rahsia dalam diari hatiku. Sendu menari – nari angkuh seperti seorang raja yang agung didadaku. Sebak meruntun kalbu. Mesej pesanan ringkas yang ku terima tengah hari tadi benar – benar menggores hatiku, sekaligus membunuh asaku. “ dahla Zam, aku dah kata jangan ganggu aku lagi! Aku bukan buang kawan tapi aku harus tegas dengan orang yang banyak menyakiti hati aku! Dah jangan buang masa aku lagi!”.. mesej itu benar – benar menghantui setiap saatku yang berlalu petang ini.
Sekali lagi aku terjatuh dalam lembah tewas itu. Aku sudah kalah. Kali ini aku tersungkur tanpa bisa berdiri lagi, walaupun ada berjuta tangan cuba menggapai, namun tidak ada satu pun yang bisa kucapai. Aku benar – benar telah kalah! Tanpa sedar mutiara – mutiara hangat itu mengalir bertali arus menuruni lurah pipiku. Aku terdera oleh sayu yang berirama pilu. Lidah terus kelu. Saat ini aku memilih bicara diam. Bicara bisu barangkali bisa mengubat lara amarahku. Tanpa banyak bicara aku terus mengikat hati dan jiwaku agar redha dengan pendiriannya. Meski jauh disudut hatiku meronta – ronta meminta agar aku perjuangkan harakah keadilan namun bicara bungkam jalan yang paling afdal untuk ku pilih. Meski kenyataan itu memedihkan, namun aku perlu sedar aku adalah hamba Allah yang fakir di bumi fana ini, Allah sentiasa menguji umatnya dengan dugaan demi dugaan yang tidak berpenghujung. Aku redha dan berserah kepada Illahi. Airmata ini terus mengalir. Sesungguhnya aku menahan sendu itu, namun aku insan lemah punya hati dan rasa. Apa yang aku rasakan kini, seperti kaca jatuh menimpa batu, hancurlumat! Mesej di telefon bimbitku kubaca berkali – kali, ternyata aku tidak pernah penting dalam hidup Asraf. Selama ini aku terlalu menjaga dan menyayanginya sepenuh hati namun, dia tetap buta oleh dunia egonya.
Asraf sahabat rapatku. Dia seorang lelaki yang ceria dan sentiasa mengukir senyuman manis. Namun jauh disebalik wajah ceria itu, tiada siapa mampu mengusai rahsia pilu yang bertahkta dilubuk jiwanya. Aku barangkali terleka juga jika tidak mengenalinya dengan rapat namun, takdir menemukan aku dan Asraf. Dan pertemuan itu, bukan sekadar pertemuan biasa. Pertemuan itu, mencipta pelbagai pertalian antara aku dan Asraf. Persahabatan yang terbina begitu kukuh dan utuh sehingga Asraf memberi kepercayaan kepada aku. Dia mula bercerita tentang kisah hidupnya. Masalah peribadinya, masalah pelajaran dan pendek kata semua masalahnya sudah menjadi masalah aku. Aku sudah membaca setiap kata hatinya. Aku merasai setiap satu kesakitan yang membaluti jiwa raganya. Aku benar – benar ikhlas ingin membantu dia. Segala kebaikan yang aku curahkan tidak pernah terdetik mahupun aku pasang niat agar dia membalasnya dengan emas permata. Aku hanya butuh keikhlasan dan kejujurannya sahaja.
“ Zam ada kat mana? Datang bilik aku kejap. Aku betul – betul perlukan kau sekarang”, bicara Asraf ketika menelefon aku. Dan aku bergegas kebiliknya meskipun esok aku bakal menduduki ujian Kritikan Sastera yang sememangnya agak sukar untuk aku score A. Namun kerana rasa prihatin yang teramat sangat aku lebih rela memilih untuk mendengar keluhan hati Asraf. Aku tidak bisa melihat dia sendirian. Dan aku faham benar dia benar – benar perlukan aku disisinya. Ketika bertemu dengannya aku terkedu sejenak. Ada mutiara jernih menyimbah pipinya. Ada takungan air yang hampir melimpah dibibir matanya. Sesungguhnya airmatanya adalah racun buatku. Aku terdera melihat dirinya begitu tidak bermaya, lesu, longlai.” Kenapa ni? Tenang, tenang. Tarik nafas..,” aku cuba menenangkannya. Tanpa sepatah kata dia hanya memandang aku dan terus menangis. Sayu hatiku melihat tetesan airmatanya. Aku jadi sebu dan kelu. Tanpa banyak bicara aku membungkam sepi. Hanya mengikut rentaknya. Mungkin belum tiba saatnya dia bersuara. Apa aku yang harus memulakan bicara? bukan satu langkah yang bijak getus hatiku. Biarlah dia mententeramkan jiwanya dahulu. Aku masih bisu dan pelbagai persoalan aneh bermain difikiranku. “ kenapa dia buat aku macam ni?”, akhirnya Asraf meluahkan bicara sendu itu. “ kenapa dia tipu aku? Kenapa dia curang dan tak pernah mahu memahami hati aku? Apa kurangnya aku?”, Asraf menyambung bicara.
Sejujurnya aku masih mencari pangkal cerita. Aku masih tertanya – tanya apa sebenarnya yang mendera dia. Persoalan yang dilontarkan begitu banyak sehingga tak terjawab oleh akalku yang terbatas pengetahuannya. “ hurmm.. Asraf, sabar ya, cuba ceritakan kepada aku apa sebenarnya yang berlaku,” aku tertib menyusun bicara, bimbang kalau – kalau menyinggung hatinya. Dia terus membisu tanpa madah. Dan aku biarkan sahaja masa berkompromi dengan detik meninggalkan waktu. “ Dia curang Zam! Dia dah ada balak lain. Betul dugaan aku selama ni! tapi dia selalu menafikan. Selama ni salah dia, tapi dia tetap menegakkan benang yang basah. Dia selalu tengking- tengking aku. Sumpah seranah aku! Dia ingat aku ni tak berperasaan ke apa?! Kalau dia dah ada yang lain kenapa dia masih terus menyiksa aku? Kenapa dia tak mahu lepaskan aku? Aku ada perasaan Zam”, bicara Asraf hilang bersama sunyinya malam itu. Malam yang bungkam sepi itu seolah – olah membaca isi hati Asraf. Yang kedengaran hanya esak tangisnya sahaja. Aku terlalu sayu melihat dirinya dalam keadaan yang betul – betul putus asa. Lidah kelu tanpa bicara. “ kau pasti dia dah ada yang lain?”, hanya kata – kata itu mampu terluah oleh bibir keluku. “ tadi aku berjumpa dengan kawan baik dia. Kawan dia dah cerita semua tentang dia. Siap tunjuk gambar awek aku tu dengan lelaki lain. Kau tau tak betapa remuk hati aku melihat gambar tu! Aku sedih dia buat aku macam ni. Aku tak marah, kawan dia buat macam tu sebab kawan dia kesiankan aku. Dia kata dia tak sanggup tengok aku diperbodohkan oleh kekasih aku. Aku sedih Zam, selama ni aku membelakangkan keluarga aku demi dia. Mak aku sendiri pun, aku tak pernah call sebab terlalu memikirkan dia. Sekarang apa yang aku dapat? Aku rasa bersalah dengan mak aku Zam”, suara Asraf tersekat – sekat menahan tangis. Sekali lagi aku bungkam. Kelu lidah bicara.
Asraf menyambung lagi “ Aku takkan maafkan dia! Apa aku ni terlalu buruk ke Zam?”. Hatiku menjadi sayu mendengar rintihannya. Pertanyaan itu terlalu tajam bagiku. Aku mengenali dia. Dan aku tahu, dia seorang lelaki yang sangat sempurna untuk seorang wanita. Terdetik rasa geram dalam hati aku terhadap wanita itu. Terkadang aku sendiri tertanya – tanya, siapa sebenarnya wanita yang dimaksudkan oleh Asraf. Aneh. Aku tidak pernah kenal wanita yang sering diceritakannya kepadaku. Bahkan, wajahnya pun tidak pernah kulihat. Apa yang mampu aku lakukan hanyalah menjadi pendengar yang setia ketika ini. Aku hanya memberikan pandangan yang aku rasa bernas berdasarkan pengalaman hidupku. Benar kata orang, pengalaman itu berharga dan mendewasakan. “ Zam,” suara Asraf membunuh anganku. “ Kau tak nak kata apa – apa ke?”, Asraf bertanya tertib namun disebalik kata – katanya dihiasi harapan agar aku memberi pandangan. “ Ermm..aku rasa macam tak ada apa- apa yang aku nak cakap. Semuanya jelas.” Aku masih buntu dan kelu tidak tahu apa sebenarnya bicara yang perlu aku luahkan. Melihat keadaan Asraf yang tidak bermaya itu aku turut menjadi lesu. Mindaku yang penuh dengan fakta – fakta Kritikan Sastera yang baru sahaja ku telaah sebentar tadi, membuat akalku tenggelam berenang, penat untuk berfikir. “ Kau bagitahulah sesuatu. Kau tahu tak aku rasa bersendirian sekarang walaupun kau ada di depan mata aku,” kata – kata itu menusuk kalbuku.
Aku tersedar dari mimpi lenaku. Aku tidak seharusnya lemah seperti dia, dia perlukan aku, getus nurani kecilku. “ Asraf, sekarang ni mungkin kau patut pergi berjumpa dengan dia dan bertanya tentang kebenaran. Sebab, selagi kau tak jumpa dia selagi itulah masalah ni takkan selesai. Berdepan dengan masalah kau,” aku cuba mengagahi diriku. Malam itu terus berlalu bersama pilu yang membaluti relung hati Asraf. Semenjak itu, aku dan Asraf semakin rapat dan banyak masalah yang dikongsi bersama aku. Dia sentiasa menjadikan aku sebagai tempat untuk bertanya dan tempat mengadu. Aku hanya memberi nasihat dan pandangan yang aku rasa bisa dijadikan panduan olehnya. Kami terlalu akrab sehinggakan nilai wang yang sememangnya menjadi ukuran kini bukan penghalang. Segalanya kami kongsi bersama. Kami sudah seperti adik beradik. Tidak berkira soal wang. Diam tak diam cuti semester telah bermula. Aku telah memilih untuk tinggal di kampus sepanjang cuti semester kerana tiket kapal terbang untuk pulang ke Sarawak kosnya terlalu tinggi. Jadi, tinggal di kampus jalan terbaik buatku. Sebenarnya jiwaku meronta- ronta hendak pulang ke Kuching namun apalah dayaku. Kekangan ekonomi. Pastinya ibu, ayah, dan adik-adikku merindui aku sepertimana aku rindui mereka.
Tanpa diduga Asraf telah mempelawa aku ke rumahnya dan menghabiskan cuti bersamanya di Langkawi. Tanpa berfikir panjang aku menerima tawaran itu. Aku sedar dia perlukan aku untuk menghadapi hari – hari sukarnya sepanjang cuti ini. Dia juga kasihankan aku tinggal sendirian di kampus. Sepanjang cuti itulah, aku mengenali siapa Asraf sebenarnya. Melihat wajah tua ibunya, aku jadi rindu dengan ibuku. Sayu bermain riang dibenakku. Teringat kata- kata Asraf sebelum kami sampai di rumahnya. “ Zam, aku takut kau tak selesalah kat rumah aku nanti. Rumah aku rumah kampung je tau.. mak aku pula jenis yang cepat mesra dengan tetamu”, aku hanya tersenyum dan berkata, “ Hurm..apa yang tak selesanya, aku kan orang kampung..kau jangan risau. Pasal mak kau tu, aku suka sebab aku pun jenis yang cepat mesra,”. Sesungguhnya hidup Asraf serba kekurangan, dia kurang segala – galanya, kasih sayang, wang ringgit, harta dan kebendaan. Tetapi aku kagum melihat ketabahannya, meski bergelut dengan pelbagai ranjau kehidupan namun bibirnya terus menguntum senyum manis yang penuh makna. Semenjak itulah, aku semakin menyayangi Asraf. Keluarganya sudah seperti keluargaku juga. Lantas aku memanjatkan kesyukuran ke hadrat Illahi kerana memberikan aku seorang sahabat sebaik Asraf. Dia memberikan aku, kasih seorang Ibu, ketika aku benar – benar memerlukan kasih seorang Ibu. Terima kasih Asraf kau ubati rindu dendamku kepada insan yang bernama Ibu.
Sebulan berlalu dengan senyum tawa dan kuntuman – kuntuman bahagia. Dalam masa sebulan itulah aku membantu Asraf mengubati luka – lukanya. Aku diibaratkan seperti sehelai saputangan. Bila airmatanya menitis aku sapu tanpa jemu. Bila dia berduka aku menjadi boneka penghibur laranya. Aku tersentuh dengan kata – katanya sewaktu kami berdua sedang duduk di tepi pantai di Langkawi, “ Zam, kau tau tak dulu, aku rasa sangat sunyi dan bersendirian. Tapi sekarang aku rasa aku dah berteman dan ada insan yang berada disisiku. Terima kasih Zam sebab kau banyak tolong aku, kau banyak jaga aku, kau banyak support aku. Aku tak dapat nak balas semua budi kau tu Zam”. Aku menarik nafas panjang. Meski hatiku terasa begitu terharu namun bagiku, aku ikhlas dengan apa yang aku lakukan demi dia. “ Asraf, aku akan sentiasa berada disisi kau dalam apa keadaan sekalipun. Kau adalah sebahagian daripada hidup aku sekarang. Aku menyayangi kau lebih daripada orang lain. Segala yang aku beri dan yang aku curahkan kepada engkau selama ni semuanya ikhlas dan aku tak pernah berharap kau akan membalasnya. Kalaupun suatu hari nanti kau sudah bergelar seorang insan yang berjaya, dan pada ketika itu, kau dah lupakan aku, aku ikhlaskan semuanya. Aku redhakan semuanya. Aku tak perlukan benda lain, yang penting kau bahagia dalam hidup kau, itu sudah cukup bagi aku, satu saja aku minta Asraf, jangan lupa pengorbanan Ibu kau. Balas setiap titik peluhnya. Dia terlalu banyak berkorban untuk kau,” aku tahu Ibunya sudah terlalu banyak berkorban wang ringgit untuk membiayai pelajarannya di Universiti. Semoga dia tidak alpaleka kelak. kata- kataku itu tengelam bersama kebisuan malam.
Sebulan berlalu dan bermulalah semester baru di kampus. Sesungguhnya hari pertama sememangnya begitu, masing- masing sibuk menguruskan hal- hal penting. Key- In subjectlah, daftar kolejlah, shopping tak terkecuali. Lebih – lebih lagi, Universiti Putra Malaysia yang penuh dengan manusia dari pelbagai pelosok negeri. Tanpa kuduga, sebermula semester ini, titik hitam juga bermula dalam kamus hidupku. Asraf ternyata berubah. Sikapnya bukan lagi seperti dirinya yang dulu. Dia selalu keluar lewat malam. Kadang – kadang tidak balik langsung. Aku lihat dia lebih memilih untuk berfoya- foya. Mungkin kerana itu bukan dirinya aku menjadi kurang selesa dengan sikapnya yang sentiasa tidak ada di kolej. Namun jika dilihat dari aspek lainnya, mungkin aku sunyi dan merasakan aku perlukan dia untuk bersama aku. Aku jadi sayu kerana sekali lagi aku berada dalam kotak sepi tanpa ada teman disisi. “ Zam. sebenarnya I nak jumpa you sebelum cuti tapi, Najlaa kata you dah pergi Langkawi. I sebenarnya ada benda penting nak bagitahu you. Actually im getting engaged this month. And this February I’m getting married”, tercitra mesej pesanan ringkas itu di mataku.
Ketika itu, hanya Allah yang tahu isi hatiku. Betapa jiwa ini remuk. Aku menjadi lesu dan tidak bermaya hanya bungkam bermandikan airmata yang menyimbah luka dalam hatiku. Mesej itu kutatap berkali-kali. Kelu . Mesej daripada Sya, wanita yang aku cintai. Kenapa Sya buat aku macam ni? kenapa dulu dia bagi aku harapan yang terlalu tinggi? Dan kenapa dia dengan mudah meranapkan impian aku? Tidak berperasaankah aku? Aku melontarkan pertanyaan itu kepada alam yang bungkam. Ketika ini, aku benar – benar perlukan teman untuk mendengar luahan hati aku. Wanita yang aku cintai sudah menjadi milik orang lain. Hampa kecewa. Mesej itu kubiarkan sahaja tidak berbalas. Sakit jiwa dan ragaku. Sesungguhnya aku ingin menamatkan siksa batinku ini. Aku tidak mampu menerima kenyataan pedih ini. Aku benar-benar buntu. Apa aku harus mendoakan kebahagiaan wanita yang aku cintai? Atau aku harus perjuangkan harakah percintaan yang sia-sia ini? Atau aku harus biarkan sahaja ikut sahaja aturan takdir. Ya Allah hamba-Mu ini terlalu lemah. Detik ini, hanya wajah Asraf yang aku bayangkan. Namun, ketika aku memerlukan bahu seorang sahabat ternyata tiada siapa yang pedulikan kesedihan aku. Ternyata Asraf bukan seperti yang aku harapkan. Dia tidak bisa menjadi seperti aku, yang sentiasa ada di sisinya. Aku menghadapi hari – hari sukarku bersendirian. Aku menghadapi ranjau itu dengan keringat, perit, dan terkadang aku tersungkur dan bangkit sendiri. Aku gagahi diriku. Meski pedih namun aku harus tabah. Pada mulanya aku tidak ingin meluahkan rasa tidak puas hatiku kepada Asraf, namun kerana jiwa ini meronta – ronta hendak meluahkan ketidakpuasan yang hampir saja melimpah keluar., aku gagahi keringatku. Ku tekan keypaid telefon bimbitku satu persatu. “ Asraf, aku betul – betul perlukan kau sekarang untuk menghadapi masalahku. Tapi kau tak pernah ada. Aku perlukan bahu seorang sahabat. Ternyata kau tak bisa menjadi aku. Aku tersedar sesuatu hari ini. Terima kasih atas perhatian yang kau beri Asraf,” laluku tekan butang hantar. Namun respon yang Asraf berikan tidak seperti yang aku harapkan. Tidak ada nada kesal sekalipun dalam mesej yang dibalas. Jiwa ku sesungguhnya terdera oleh sikap manusia yang begitu mementingkan diri. Hanya airmata yang menemani hariku. Apa mungkin Asraf sememangnya ego, tidak bisa menunjukkan rasa prihatinnya? Hanya Tuhan yang maha mengetahui isi batin Asraf.
Saat ini, ku pohon dengan ikhlas kepada Allah semoga diberikan aku kekuatan dan petunjuk untuk menghadapi masalah yang mewarnai hari – hariku. Dan aku mengambil keputusan untuk menjauhi semua manusia yang membawa masalah kepada aku. Asraf, Sya dan semua yang mencipta masalah dalam hidupku. Aku memilih untuk berdiam diri dan menyepi. Ketika inilah Asraf menyedari perubahan ku. Dia cuba memujuk dan bermesra – mesra dengan aku. Namun hati aku cukup terluka, aku mengajar jiwa aku untuk terus membenci mereka. Aku memilih untuk berdendam! Dan wajah kasihan yang Asraf cipta juga tidak bisa melembutkan kerasnya batu hatiku. Sewaktu hendak meghadiri kelas petang itu, aku telah menerima satu mesej yang membuat jiwa aku sebak. “ Salam. Aku minta kau halalkan semua jasa budi pengorbanan kau kepada aku selama ni, halalkan semua wang ringgit kau selama bersama aku. Aku redha dengan perubahan kau dan aku janji takkan kacau hidup kau lagi. Selepas ni aku takkan susahkan kau dengan masalah hidup aku lagi. Maafkan aku Zam,” mesej daripada Asraf itu membuat aku sayu dan sebak. Aku tersedar sesuatu dan aku mengutuk diri aku. Sesungguhnya aku insan fakir di bumi Allah, aku hanya manusia biasa yang tidak layak menghukum dan membenci sesama hamba Allah, kerana aku juga adalah hamba-Nya. Telefon bimbitku berbunyi lagi, mesej daripada Asraf “ selama ni aku keluar malam bukan suka-suka Zam, kau tahu keadaan aku. Aku kesempitan wang. Aku perlu cari duit lebih. Aku minta maaf kalau dah buat kau kecil hati,”. Aku menahan sebak dan dalam sendu itu aku berlari dan berpatah balik ke kolej untuk mencari Asraf. Aku telah menghukum dirinya dengan zalim. Aku seharusnya mengerti. Tetapi dia juga tidak pernah cuba buat aku faham dan mengerti apa sebenarnya yang sedang berlaku. Aku khilaf. Maafkan aku Asraf. Kulihat dia sedang duduk termenung. Aku menyusun tertib langkahku dan menyentuh bahunya. Ku ukir senyum yang penuh makna. Senyuman kemaafan. Senyuman kemesraan lalu dan senyuman persahabatan. Mungkinkah kuntum perdamaian ini akan terus mekar atau kelopaknya akan layu dan berguguran jatuh ke bumi?
Namun bahagia itu hanya sesaat, beberapa hari berlalu, sekali lagi masalah tercipta. Asraf keluar bersama sepupunya dan bermalam dirumah sepupunya. Asraf menghubungi aku dan seperti biasa kami berborak tentang pelbagai isu. Kebetulan sepupunya ada disitu. Sepupunya mengusik tetapi lagaknya seperti seorang lelaki lembut. Aku yang kehairanan bertanya dan pertanyaan ku itu sekadar bertanya tanpa niat lain. “ hurmm, sepupu kau tu lembut ke?”. Asraf menjawab, “ ish kau ni, dia saja je nak menyakat aku.” Dan pertanyaan itu berakhir disitu. Kemudian malam itu kebetulan aku bertemu dengan seorang kawan kolejku, dan dia memberitahu ternampak Asraf keluar dengan seorang lelaki tetapi lagak lelaki itu seperti seorang lelaki lembut. Aku tahu itu sepupunya dan bagi aku, aku tak kisah siapa atau bagaimana sifat seseorang itu kerana dia juga hamba Allah dan Allah melihat semua hambanya sama sahaja. Selepas itu, kerana kenakalanku dan niat hendak menyakat dan bergurau dengan Asraf aku meghubungi dia. “ hello, kau kat mana?”, tanya ku. “ kat bukit bintang, lepak – lepak dengan cousin aku. Kenapa?”, jawab Asraf. “ oh ya ka, ni ada orang nampak kau kat Sunway Pyramid tadi. Cousin kau tu lembut ya. Kau tak payah nak tipu aku, orang tu bagitahu cousin kau tu lembut..hehe”, usikku.. “ Eh, dahlah kau ni! suka nak serkap jarang aku!”, tap! Talian terputus. Nada suara Asraf benar – benar marah. Dia begitu marah dengan usikkan aku. Aku terus terdiam dan tertanya – tanya adakah aku sudah melakukan sesuatu yang sangat dahsyat sehingga Asraf bertindak demikian. Aku terbungkam sejenak.
Hanphone ku berbunyi. Ku tatap skrin. Mesej daripada Asraf “ Mulut kau ni memang celaka! Tak habis – habis nak sibuk jaga tepi kain orang lain. Nak jaga hal orang lain! Dahla kau yang cari pasal dengan aku. Aku dah tak nak ambil tahu hal engkau mulai hari ini! Kau tak payah nak mesej atau call aku lagi!” aku terkedu sejenak. Terpaku. Kelu. Apa terlalu besarkah silapku? Niat hatiku hanya hendak mengusik sahaja. Aku buntu dan hanya airmata yang menjawab segala persoalan yang terbuku dalam hatiku. Aku tidak menyangka kata – kata itu akan ku dengar daripada teman baikku Asraf. Itu bukan dia! Dan aku tekan butang handphone ku, berkali – kali. Aku call tapi tiada jawab. Akhirnya aku menyerah kalah. Aku mengambil keputusan untuk berdiam sahaja. Mungkin itu lebih elok untuk memadam api yang sedang membara. Selepas tiga hari berlalu, atas nasihat teman – temanku yang lain, aku mengambil keputusan untuk berdepan dengan Asraf. Selepas makan tengah hari, aku terserempak dengan Asraf dan aku kuatkan diri untuk berjumpa dengannya. Dia berjalan dengan pantas namun aku pantaskan juga langkahku mengejar dia.
Dalam suara yang tersekat – sekat itu, aku memanggilnya, “ A...Asraf..”, dia memalingkan wajahnya dengan wajah yang penuh benci. Dengan nada suara yang hampir – hampir menengking dia menjawab panggilanku, “ Apa! Eh, dahlah jangan kacau aku lagi! Aku dah tak nak ada kaitan dengan kau lagi! Dah!,” dia berlari dengan pantas meninggalkan aku yang tergamam dengan tindakannya. Aku hanya melihat sahaja dia berlalu pergi. Tanpa secebis bicara. Aku hanya tersenyum menyedari betapa bodohnya aku yang selama ini tidak menyedari kelakuan manusiawi. Petang itu benar – benar merobek lukaku. Aku tidak mampu menerima apa yang dilakukannya terhadap ku. Aku tidak menyangka gurauan yang aku ciptakan malam itu begitu besar dan dahsyat kesannya kepada persahabatan aku. Dan petang itu, aku habiskan untuk menilai dimana khilafnya. Lalu aku mengingati kekasih sejati setiap umat Islam.Tuhan Yang Kamil. Allah. Ya! aku harus memohon petunjuk dan hidayah-Nya. Aku mengagahi diriku untuk menunaikan solat Zuhur. Aku menangis dalam sujudku. Memohon keredhaan-Nya dan ku pohon agar diberikan pelita yang terang untuk aku menghadapi waktu malamku. Akhirnya aku didik hatiku untuk redha dan memaafkan Asraf. Aku ikat hati aku untuk terus kuat dan terus senyum. Matlamat ku datang kesini untuk menuntut ilmu. Aku masih punya impian untuk kukejar. Aku ingin terus menjadi matahari yang sentiasa menyinari alam semesta membahagiakan khalifah-khalifah Allah. Meski rindu terhadap kemesraan bersama Asraf seringkali bertandang, namun aku pasrahkan segalanya. Aku tidak bisa membenci. Kerana dia pernah menjadi sebahagian daripada hidupku. Biarlah masa yang mengubati luka di hati aku dan Asraf. Masa juga akan memujuk hati agar persahabatan itu kembali terjalin. Sejujurnya aku masih menantikan detik, waktu dan saat itu tiba dimana persahabatan itu akan kembali terjalin. Meskipun ianya pasti berbeza namun jalinan itu memadai untuk kusyukuri.
“ Dah lama tunggu?”, lamunanku terhenti oleh suara teman baikku Danish. “ Hurm..tak adalah lama sangat dalam 20 minit macam tu. So apa lagi, mari mulakan senaman kita,” aku tersengih. “ Jom! hari ini kita jogging dua pusingan tau,” usik Danish. Mesej pesanan ringkas daripada Asraf tadi kuluputkan dari minda fikirku. Aku hormati pendiriannya. Jauh disudut hatiku aku bersyukur kerana dia sudah bisa membuat keputusan untuk dirinya dan tidak bergantung kepada orang lain. Namun aku tertanya- tanya, adilkah bagi aku yang selama ini memaafkan semua perbuatan orang terhadapku, tetapi hanya kerana kesalahan kecil itu dan hanya kerana salah faham itu aku dihukum dengan penuh siksa. Namun siapalah aku untuk mempersoalkan keadilan. Mungkin aku juga terlalu banyak menyakiti hati Asraf tanpa sedar. Jadi adil tidak adil aku tidak bisa menyalahkan sebelah pihak sahaja. Hanya Allah yang berkuasa menentukan keadilan. Hanya Allah Yang Maha Adil. Tetapi demi kepentingan diri kita, wajarkah andainya kita meletakkan harga pada sebuah kemaafan itu? Apa aku harus menambah nilai harga kemaafan aku supaya tidak ada siapapun bisa menyakiti hati aku? Hanya manusia yang lebih arif tentang harga kemaafan mereka, namun manusia juga alpa kerana tidak pernah melihat harga sebuah kemaafan itu dengan mata hati dan mata fikir mereka. Jadi harga sebuah kemaafan itu siapakah yang layak menentukannya? Aku? Kamu? atau kita?
