JANJI
Detik itu
Kuhayun kakiku Sepantas kudratku
Setiap langkah kugagahi
Bersama segunung tabah
Walau mutiara dibirai mata ini
Gugur bertali arus namun kental jiwaku tak tewas
Detik itu
Ibu menangisi pemergianku
Masih ku ingat
Lambaiannya dihiasi sekuntum senyum
Airmatanya dibungai bahgia
Meski pilu mengikat relung hati
Namun pasrah merungkai rela
Detik itu
Ayah merenung mataku
Ada sinar pengharapan menghiasi bibir matanya
Renungan itu membuat hatiku akur dan faham
Bahawa akulah tiang harapan keluarga
Pergi ku bersama segenggam harapan
Pergiku membawa seribu impian
Impian seorang ayah untuk melihat anaknya berjaya
Harapan si ibu anaknya menjadi anak berguna
Bersama secebis doa dan tiupan semangat ayahanda dan bonda
Sudah cukup untukku jadikan senjata agungku
Masih segar di mindaku
Meski nurani kecil ini
Menangisi perpisahan itu
Namun langkah ku gagahi
Bersama secebis pasrah
Berbicara pada diri
Memujuk jiwa
Agar tabah melakar impian
Aku melafaz satu janji dengan kalam Bismillah
Memohon secalit rezeki-Mu Ya Allah
Segulung ijazah kelas pertama buat mereka
Itu janji ku buat insan yang bernama ibu dan ayah
Amin..
SEMANGAT
Masihkah aku memilikinya
Masihkah ada dia dalam diriku
Selama ini
Dia menemani aku
Meniti setiap
Lembaran dalam wacana hidupku
Setiap kali tirai kejayaan ku berlabuh
Dia setia menghiasinya
Namun sering aku bertanya
Masihkah ada dia disisi ku
Masihkah ada gersik suaranya
Yang sering kali memanah rasa
Masih bertenagakah ia mengiringi aku
Dalam menempuh cermin kehidupan yangbegitu kabur
Atau...
Sudah paraukah suaranya
Sudah lesu dan lunturkah ia
Apa ia sudah terlalu hodoh
Sehingga rasa malu mengigit sudut hatinya
Segan menari angkuh didadanya
Kerana itulah dia semakin hilang dariku
Wahai teman yang bernama semangat
Aku rindu padamu
Temanilah aku sehingga Illahi menyeru nama ku
Wayang Kulit
Bergema alunan irama
Dalang kelir panggung
Bersama hanuman yang dicipta dari belulang
Asalnya kulit lembu yang sudah mati
Dikeringkan dan dikikis menjadi patung
Al-kisah peperangan dasyat Seri Rama
Seringkali berirama setiapkali selepas musim menuai
Wayang kulit tradisi gemilang
Warisan abadi selamanya
Gitar Sebuah Itu
Gitar sebuah itu,
Selalu ada disisiku,
Menghilangkan sendu rindu,
Melampiaskan marah benci,
Mengusai rindu dendam.
Gitar sebuah itu,
Teman hidup abadiku,
Tika bungkam merobek duka,
Iramanya begitu asyik memecah sepi,
Petikkan talinya mengegar rasa,
Hilangkan tangisan yang merajai hati.
Gitar sebuah itu,
Teman hayatku abadi selamanya.
Layunya Sekuntum Mawar Merah
Layumu dimamah cahaya
Cahaya cerlang merobek warnamu
Kau sangka sinaran mentari itu penyubur abadi
Namun tanpa sedar mentari itu pemusnah indahmu
Dulunya kau sesegar embun pagi
Penyeri setiap saat dalam perjalanan hidupku
Kau mekar melakar memori kasih aku dan dia
Namun layumu bersama cinta suciku
Layumu menggugurkan kelopak – kelopak rinduku
Layumu menghapuskan kuntuman senyumku
Layunya sekuntum mawar merah
Bak layunya cinta aku dan dia.
PENITIAN MAKNA
Meniti hari hari indah
Setiap nadi berdenyut penuh hikmah
Teman sejati seribu ramah
Bagaikan aku di rumah
Mulanya hiba merangkul prasangka
Saat langkah kususun tertib ke arah mereka
Lalu tangan kuhulur tanda perkenalan awal nan mesra
Saat berganti detik dan detik berubah masa
Pertalian yang terikat kukuh
Membuahkan seribu kasih
Tiada lagi sunyi
Tawa angkuh mengusir derita
Tiada lagi tangisan pilu
Hanya riang melakar cinta
Hanya kasih mencorak sayang
Hanya pengertian seribu makna
Akan persahabatan yang terjalin
Mengikat sang hati untuk menjadi akur
Dan otak menjadi faham
Akan bahgia yang terlahir
Namun ..........
Warna yang ceria dulunya
Kini hilang tidak berbaki
Kini hanya warna suram
Yang mewarnai
Setiap detik yang berlalu
Setiap corak yang kucuba lukiskan
Dinodai dengan warna suram
Hitam gelap pekat
Dimana putihnya yang suci?
Aku hilang arah dalan perjalanan meniti
Titian sahabat yang pernah kami bina
Dengan seribu ketulusan
Yang terpahat di sanubari
Aku rindu tawa mu
Aku inginkan belaian manjamu
Aku rindu deru asyik suaramu
Aku rindu saat itu
Aku rindu segalanya
Teman mengertilah
Akan hati ku ini
Andai pernah kata mencanang nista
Kemaafan ku pohon tanda perdamaian
Andai tingkah telanjur parah
Keampunan kuhulur
Agar suci membunga kembali
Teman
Andai tali suci yang kita satukan
Terlerai tanpa penghujung
Aku redha
Mungkin itu tanda akhir hubungan kita
Tapi jangan pernah berhenti
Memohon doa kudus
Buat kita
Agar diari hati ini
Senantiasa ingat bahawa kita pernah bersahabat
SATU
Biarlah seiring
Berganding tangan
Menuju satu destinasi
Kita tegar berdiri
Walau nista tecanang bertebaran di udara
Andaikan ia bebayang kalis pandangan
Kita jangan pernah
Tersilap tafsir akan ertinya
Ingatlah apapun nyatanya
Kita tetap satu kerna kau dan aku tiada lagi dua tetapi satu
KELIRU
Aduhai hati!
ku cari bicaramu
Namun ku dengar sayup sayup
Ku cuba peka kan telinga
Namun jeritan mu itu membuat aku keliru
Nama siapa yang kau canangkan itu?
Dia atau dia?
Yang mana satu.............
Oh hatiku!
Bisikanlah cintamu itu untuk siapa?
Aku masih mampu mendengar suaramu
Aku masih bisa mencium keharuman bunga-bunga cinta
Yang kau putikan
Oh hatiku!
Lagu cinta itu milik siapa?
Mengapa nada-nadanya begitu syahdu
Dibungai dengan rintik-rintik bahgia
Aduh!
Keliru aku...
Siapa dia
Insan yang mengigit
Sanubariku.....
Oh hatiku hanya kau yang bisa merungkainya.........................
Wajah tua mama
Wajah itu
Ku lihat buat pertama kalinya
Aku menjengah dunia
Wajah itu
Kulihat acapkali
Mengukir senyum bahgia
Mengalirkan airmata gembira
Dikala setiapkali aku berjaya
Wajah itu senantiasa
Menemani aku
Saat jatuh dan bangunku
Dalam meniti arus kehidupan
Wajah itu selalu memujukku
Saat diri dilanda kesedihan
Hari demi hari
Detik berubah saat
Dan saat membawa masa lalu jauh meninggalkan aku
Wajah itu jua semakin tua dan lesu
Kedut dengan angkuh
Mencorak usia
Namun wajah tua itu masih disitu menemaniku
Meniti usia mudaku
Di jalan kehidupan yang
Dihiasi cahaya seribu liku
Wajah tua mama
Membakar semangat ku
Untuk terus berjaya.
ANDAI
Semalam membuat aku mengerti makna hari ini
Pengalaman hari ini
Mengajar aku menjadi berani
Untuk menghadapi hari esok
Keberanian yang ku miliki hari esok
Adalah petua kejayaan ku di hari muka
Dan kejayaan ku di hari muka
Adalah jaminan cerah buat ku
Menempuh pelayaran hidup
Di layar kenyataan
Yang penuh pancaroba ini
Andai kiranya
Langkah ini tersadung
Andai kiranya jalan ini berliku
Hingga aku harus akur dengan mainannya
Andai kata
Aku rebah dipintu harapan
Dan
Andai saat itu aku
Kaku tak bermaya
Aku redha
Aku pasrah
Kerana
Itu tulisan takdir
Dan seandainya
Coretan hidupku harus begitu
Aku terima hakikatnya
Kerna
Aku berserah pada yang Satu
FATAMORGANA
Bahang auranya masih membakarku
Cahaya cinta yang cerlang
Menghiasi cermin hati ini
Masih terasa tarian riang si jantung
Saat pertemuan ulung
Ketika hati dipanah cinta
Aku cuba mencari penawar yang ampuh
Dibawah rimbunan pepohon silara
Demi
Memujuk sang hati
Agar mengerti aturannya
Dinihari mula gentar melihat gelagat senja
Malam dengan tertib melamar senja
Bungkamnya malam itu
Bukan bermakna sepi
Diamnya malam itu tanda faham dan mengerti
Akan suara di relung hatiku
Yang mencanang namanya
Batinku meronta
Agar harakah percintaan ini aku perjuangkan
Namun,kesedaran memayungi aku
Waras mematahkan lamunanku
Kini aku tahu dan sedar
Cinta itu fatamorgana semata